Video Marketing

Konsep 3K, Senjata Utama Video Marketing pada Media Sosial

Sebuah karya visual mempunyai kekuatan tersendiri dalam memanjakan mata manusia untuk menyerap informasi apapun. Dalam dunia bisnis, konsep visual telah menjadi pilihan utama untuk urusan marketing. Sehingga, video marketing sangat penting dalam membangun serta mempertahankan sebuah brand.

Roy Simangunsong, Country Business Head Twitter Indonesia menjelaskan ada tiga K yang bisa dijadikan konsep untuk menciptakan karya visual marketing untuk eksistensi sebuah brand. Ketiga hal tersebut adalah Konten, Konteks, dan Kontinuitas. Ketiga hal utama tersebut akan menjadi sebuah kampanye video yang menarik.

Kita akan menyadari jika kampanye (tidak hanya urusan politik) yang menjadi viral biasanya memiliki komponen video di dalamnya. Sebuah video jika ditempatkan secara strategis, akan menjadi medium yang sangat kuat untuk menarik perhatian serta memancing interaksi dengan penonton.

Sebuah bisnis dan brand yang tergolong baru, ada beberapa cara untuk memaksimalkan dan menggunakan kekuatan video sebagai salah satu alat content marketing yang efektif.

Melihat pentingnya sebuah video, Roy Simangunsong menjabarkan bahwa Twitter sebagai media sosial populer di Indonesia sudah berinvestasi di platform video dalam waktu yang lama. Contohnya adalah video enam detik Vine, promoted video, content partnership dengan broadcaster di Amplify, serta aplikasi video live streaming Periscope.

Terkait dengan video tersebut, unsur 3K sangat penting untuk dipertimbangkan oleh brand saat akan mengembangkan dan mempertahankan sebuah brand.

1). Konten

Konten merupakan inti dalam sebuah tweet dengan komponen video. Layaknya sebuah drama, produser, pengarah, dan pemain berperan penting dalam membuat narasi video menjadi hidup. Konten juga sangat penting untuk memikirkan bagaimana produser ingin memosisikan klip video tersebut, siapa yang akan menjadi pemeran utama, dan bagaimana mempromosikannya.

Dalam sebuah riset yang dilakukan pihak Twitter Indonesia sejak 2016 hingga 2019, dijelaskan bahwa akun pengguna ingin melihat lebih banyak konten video dari tiga sumber berikut: selebritas (45%), brand (37%), dan pengguna lain (40%). Di samping pembuatan, ketiga sumber tersebut juga bisa tampil dalam video.

Kita bisa lihat pilihan terbesar mereka jatuh pada topik selebritas. Mereka(selebritas) dapat memulai awal sebuah kampanye dengan narasi yang mumpuni. Bahkan jika selebritas tampil dalam video yang punya konten eksklusif seperti “behind the scene” yang memanfaatkan fitur autoplay Twitter, kesempatan endorsement menjadi lebih besar.

Jika kamu bukan selebritas, namun punya banyak follower jangan patah semangat. Hal tersebut karena masih banyak cuplikan video inspirasional, seperti beragam video dari Vine. Format video looping 6 detik milik Vine sama seperti menulis sebuah skit, yang kunci utamanya adalah tetap membuat narasi video tersebut sederhana.

Selain itu, cara bisnis untuk memanfaatkan kekuatan kreatif tersebut adalah dengan meminta partisipasi dari pengguna. Kamu bisa mengajak pengguna untuk menciptakan konten yang berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan suatu produk atau brand, dan membuat konten yang mereka sukai dari hal tersebut.

Hal yang lebih efektif lagi adalah dengan me-retweet video pengguna yang terkait dengan narasi yang kita tentukan. Karena, kelangsungan sebuah brand dalam pembuatan video untuk platform media sosial, harus tepat sasaran dan memiliki konten menarik.

2). Konteks

Ketika kamu sudah berhasil membuat konten yang solid, saatnya fokus pada konteks. Bayangkan hal ini sebagai iklan promosi untuk video marketing. Kamu akan menggabungkan kampanye sebuah brand pada agenda, pesan, atau gerakan yang sedang terjadi, dapat menarik atensi terhadap video tersebut.

Dengan demikian, kamu akan lebih mudah menciptakan koneksi dengan audiens. Salah satu contohnya adalah video Vine yang sederhana tapi memiliki banyak pesan ini, yang dibuat oleh perusahaan makanan cepat saji di Amerika Serikat, Arby, untuk merayakan #WorldEmojiDay.

Movements juga dapat memberikan koneksi yang personal kepada khalayak sasaran. Kuncinya adalah memilih “movement” yang memiliki ketertarikan tinggi bagi audiens inti Anda, seperti yang dilakukan Unilever Indonesia untuk merek Ponds (@PondsTeens) melalui kampanye Flock-to-Unlock di Twitter#WajahBaruIndonesia. Ini merupakan gerakan nasional untuk mengajak perempuan muda Indonesia mengatasi tantangan dan mencapai keinginan mereka.

Flock-to-Unclock merupakan sebuah tool yang dimiliki Twitter di mana pengguna didorong untuk melakukan retweet atau favourite sebuah tweet, sehingga mencapai jumlah tertentu. Saat jumlah tersebut tercapai, akan ada sesuatu yang spesial yang dirilis oleh brand–dan ini bisa jadi apa saja: iklan baru, varian produk baru, dan lain sebagainya.

3). Kontinuitas

Periscope, sebuah aplikasi live broadcast milik Twitter merupakan sebuah cara baru yang menarik untuk berbagi tentang brand kamu dan memiliki frekuensi yang banyak kepada audiens.

Di Periscope, brand dapat memperoleh umpan balik secara real-time selama siaran berlangsung. Jadi Anda dapat dengan mudah memberikan respons terhadap pertanyaan atau masukan dari para penonton siaran tersebut. Dengan diintegrasikannya Periscope ke timeline Twitter, hal ini akan membantu Anda menjangkau lebih banyak audiens.

Salah satu contoh brand yang sudah melakukan hal ini adalah Lazada (@LazadaID), yang memberikan pengalaman eksklusif bagi para pelanggan mereka dengan melakukan siaran Periscope secara reguler. Lazada mendapat feedback positif dari para pelanggan setiap kali melakukan siaran Periscope, terutama pada saat jam pulang kantor.

Dalam hal ini, Lazada memiliki kesempatan untuk langsung mendengarkan saran dan masukan dari para pelanggan mereka, seperti bagaimana pengalaman mereka ketika berbelanja di Lazada serta produk apa saja yang paling digemari.

Baca Juga : Digital Marketing Bagi Pemula, Kamu Harus Tahu!

Lazada juga berhasil memanfaatkan siaran langsung Periscope ini sebagai wadah untuk menanggapi komentar dan saran dari para pelanggan setia mereka. Seperti apa yang dilakukan oleh Magnus Ekbom, CEO Lazada Indonesia, ketika “viewers” mengajukan pertanyaan terkait permasalahan sistem pembayaran Lazada saat proses check out. Saat itu juga, Magnus langsung menghubungi bagian yang terkait untuk memastikan hal tersebut segera ditindaklanjuti.

Dengan seketika, terjadi peningkatan jumlah ikon hati secara signifikan. Hal ini membuktikan bahwa pemanfaatan video dapat dilakukan bukan hanya untuk kegiatan kampanye, tapi juga dalam hal yang terkait dengan layanan terhadap pelanggan. Apabila dilakukan secara berkelanjutan, ini dapat menjadi sarana yang ideal untuk meningkatkan “customer loyalty”

Satu hal yang perlu diingat adalah pentingnya memiliki konten yang sesuai dengan konteks dan berkelanjutan (kontinuitas) di media sosial. Tidak ada yang lebih buruk selain akun yang tidak aktif. Kamu tidak perlu melakukan sesuatu dengan intensitas yang sangat tinggi, tapi tetap perlu mempertimbangkan momentum. Kamu siap memanfaatkan momentum tersebut bersama kami? Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tim Digitalfinger.id Selamat mencoba!

Source: liputan6.com, ziliun.com, elitmarketet.id

bagikan artikel ini:

Read Another Post

Menu